http://m.inspirasihati.com

http://www.magnet-id.com/

KOMPILASI TULISAN PENUH HIKMAH

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Alhamdulillah, segala Puji hanya bagi Allah SWT, yang senantiasa memberikan berjuta kenikmatan kepada semua hamba-Nya. Salam dan Shalawat semoga senantiasa tercurah suri tauladan umat, Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabat serta pengikutnya hingga akhir zaman.

Saatnya buat Sahabat yang suka berda'wah melalui tulisan? Tuangkan kekuatan inspirasi Sahabat melalui tulisan penuh makna dan hikmah nantikan karya da'wah sahabat dipublish di www.InspirasiHati.com
email Naskah dikirim ke
awanalbana@yahoo.com

Semoga Menjadi Amal Ibadah Sahabat, amin
Jazakumulloh Khairan Katsiran
Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

INDEX HIKMAH UPDATE

NSP_PREV NSP_NEXT
Kekuatan Rayap
HIKMAH TAHUN BARU ISLAM
AYAH, MAAFKANLAH AKU...
RAHASIA TUKANG BECAK YANG HAJI TAHUN INI
MENUNTUN TUNANETRA
Kisah Qurban Bu Sumi
MENGENANG LELAKI TUA, AYAHKU
NASI, GARAM DAN MINYAK JELANTAH
Wong Fei Hung, Ulama Jagoan dari Guandong
JERUK BUSUK...RASA MANIS
YA ALLAH, KAPAN AKU MENGANGKAT KOPERKU SENDIRI ?
IBU PERKASA PENCARI NAFKAH
'Ayah, bolehkah berpacaran?'
Pelajaran Syukur dari Dua Orang Pengamen
MARHABAN YA RAMADAN!
ZIKIR ITU PENAWAR HATI
BELAJAR MENGHARGAI ORANG LAIN
MAMPIR NGOMBE
LAPAR HATI
JAM SOSIAL SPIRITUAL
ANTI VIRUS KEHIDUPAN
Pengemis aja BANGUN PAGI
TEH INSPIRATIF
5 PINTU MENUJU KEBAHAGIAAN
KESABARAN SEORANG GURU
YANG TERMAHAL DALAM DO'A
KALO GEDE MO JADI APA, NAK?
SEDEKAH, MAMPU TAK MAMPU...
GADIS CILIK DI LAMPU MERAH
SI JUJUR DAN SI BERANI
BUNYI YANG BERARTI
MENGAPA BERTERIAK?
KEKUATAN PUJIAN
MAMPIR NGOMBE
Tuesday, 20 July 2010 23:12    PDF Print

MAMPIR NGOMBE
[Penulis : Qosim Nursheha Dzulhadi ]

Hari Soul Putra

 

Saya ingin menulis refleksi ringan tentang kehidupan manusia di atas dunia. Kehidupan kita, di dunia fana.

Hakikatnya, kita semua adalah ‘musafir’. Hanya berteduh di bawah pohon yang rindang yang bernama “dunia”. Suatu saat, kita akan meninggalkan pohon itu. Kita akan terus berjalan menuju tempat yang sebenarnya, ‘kampung akhirat’. Ya, kampung “terakhir”: kampung keabadian.

Musafir yang baik dan bijak, dia tidak akan terpesona dengan indahnya panorama dan tiupan angin yang sepoi-sepoi di sekitar “pohon”. Karena itu bukan tujuan utamanya. Tapi, musafir yang tanpa bekal dan –tanpa–tujuan yang jelas, akan tertipu oleh ‘akesoris’ yang ada mengitar pohon tersebut. Bisa jadi, dia akan tertidur pulas di bawahnya. Sehingga, dia tidak ‘rela’ dan tidak kuasa untuk meninggalkannya. Akhirnya, dia jadikan pohon itu sebagai “tempat tinggalnya”. Dia pun enggan untuk meninggalkannya.

Padahal Baginda Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa di dunia ini kita hanya sebagai ‘orang asing’ (gharib). Artinya, ini bukan kampung kita. Ini bukan residen kita yang hakiki. Beliau mengingatkan, “Bersikaplah di dunia seperti orang asing atau (hanya) sekedar lewat.” (HR. Al-Bukhari). Ya, kita hanya numpang lewat. Nasehat khusus itu Nabi SAW bisikkan dengan sangat mesra ke telinga ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khatthab, sembaring memegang pundaknya yang kokoh.

Saat itu, ‘Abdullah pun bertutur, “Jika engkau di sore hari, maka jangan tunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sore hari. Ambillah kesempatan sehatmu untuk (bekal) sakitmu, dan hidupmu untuk (bekal) matimu.”

Benar sekali! Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang masih diberikan oleh Allah kepada kita. Pagi ini kita hidup, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Karena bisa jadi sore nanti kita dipanggil oleh ‘Sang Pemilik’ kehidupan. Mungkin sore hari kita masih diberi nafas, maka kita pergunakan nafas itu. Karena bisa jadi, orang-orang pada bangun di pagi hari, kita ternyata ‘tidur selamanya’.

Imam Abu Dawud al-Tha’i pernah bertutur, “Malam dan siang hakikatnya adalah fase-fase yang dilalui oleh manusia, sampai mereka sampai kepada ujung perjalanan mereka. Jika di setiap fase itu engkau bisa mengumpulkan bekal, maka lakukanlah. Sungguh, keterputusan perjalanan itu sangat dekat. Dan masalahnya lebih cepat dari itu. Maka perbanyaklah bekal untuk perjalananmu…”

Di dunia ini kita hanya ‘mampir ngombe’. Maka, kita harus banyak mengisinya dengan segala bentuk dan ragam ketaatan kepada Rabb kita. Sebelum kesempatan hidup dan desahan nafas dikembalikan kepada pemiliknya. Segala bekal dalam perjalanan kita, itulah yang akan kita ‘ketam’ di kampung kita yang sesungguhnya.

Orang yang sadar bahwa hidup ini hanya ‘mampir ngombe’, dia tidak pernah menyia-nyiakannya. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun adalah ‘beker’ pengingatnya. Yang selalu berdering di qalbu-nya bahwa hidup ini hanya mampir ngombe. Semoga.[Q]

 

Add comment


Security code
Refresh

TIDAK BISA MENDENGARKAN RADIO LIVE STREAMING KLIK >> [ wmpfirefoxplugin]

StudyZone Islamic BroadcastingMagnet Hosting95.5 RASfm JakartaAM792 Radio Suara As Syafi'iyah Jakarta89.5 SPAfm SukabumiQommunity Radio GermanyRadio-QU Cirebon