|
MARHABAN YA RAMADAN! [Penulis : Qosim Nursheha Dzulhadi ]

Pada tahun 1957, Ali al-Tantawi menulis tentag Ramadhan dalam bukunya 'Shuwar wa Khawaathir' (Damascus: Dar al-Manarah, ttp: 215). Kata al-Tantawi: "Tulisan ini tentang Ramadhan. Di dalamnya ada cahaya dan serbak wewangian. Di dalamnya ada kebaikan dan kesucian dan pengalaman yang banyak. Di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, terdapat Laylatul Qadar, Perang Badar, dan di akhirnya ada Idul Fitri. Ramadhan adalah cahaya dalam seluruh pendengaran dan qalbu. Dia adalah puasa dari makanan (al-tha`am) dan dari barang yang haram (al-haram). Seandainya hidup hanya untuk berebut kehidupan, maka bulan ini adalah moment untuk mengetahui rahasia hidup dan kehidupan. Jika usia seluruhnya dikorbankan untuk jasad, maka bulan ini adalah kesempatan untuk ruh. Sekiranya dunia hanya tempat untuk berselisih dan bermusuhan, maka bulan ini adalah kesempatan merajut cinta dan keharmonisan. Itu lah Ramadhan yang aku saksikan wajahnya ketika aku kanak-kanak, sampai aku jatuh cinta kepadanya. Aku mendapatinya penuh dengan kebaikan di setiap sudut kota Damascus (Syiria), maka aku membesar-besarkannya dan menyebarkannya. Sayang, aku tak lagi menyaksikan hal itu untuk selama-lamanya. Aku baru sadar, bahwa aku kehilangannya dan telah menyia-nyiakannya. ***** Segitu saja yang dapat aku kutip dari al-Tantawi. Mungkin refleksinya sudah mewakili pengalaman dan keintiman kita bersama Ramadhan, tahun lalu. Maka kita ucapakan terima kasih kepada al-Tantawi. Jika berbeda jauh dengan yang kita alami, aku mencoba untuk berbagi refleksi di bawah ini. Bulan Penuh Cahaya... Cahaya keimanan, cahaya ketaatan, cahaya ketakwaan, cahaya kedermawanan, dll. Siapa saja yang tak mau berpuasa pada bulan ini, sungguh dia telah kehilangan cahaya keimanan. Dia akan rugi karena takkan memperoleh cahaya ketakwaan. Siapa saja yang bakhil di bulan ini, dia telah lupa kodranya sebagai 'kran' harta Allah. Jangan lupa, kata Allah, di dalam hartamu ada milik orang lain. Sadar atau tidak, begitu hukum dan undang-undangnya. Turunnya Al-Qur'an.... Demikian kata Allah (Qs. 2: 185), Al-Qur'an turun di bulan ini, untuk membimbing manusia ke arah hidup yang lebih baik: lebih rabbani, lebih manusiawi. Al-Qur'an adalah 'way of life' kita (Qs. al-Isra' [17]: 9), maka jangan sia-siakan. Rengkuh dia, hampiri dia, berdialog lah dengannya! Berinterraksilah dengannya, kata Syeikh Muhammad al-Ghazali dan Syeikh Yusuf al-Qaradhawi. Moment Memoles Ruh, Merajut Kasih... Ramadhan mengajak kita agar tidak terlena dengan kebiasan kita 11 bulan silam. Mari, kosongkan perut Anda, agar merasakan betap nikmatnya lapar. Kamu akan merasakan kedekatan dengan Allah yang Serba Maha. Sungguh, betapa lemahnya engkau, hanya beberapa menit saja ketinggalan makan, sindir Ramadhan. Jangan foya-foya untuk perut besar kita. Ini waktunya, bukan diet, bukan kebugaran, tapi lapar untuk ketaatan dan demi ketakwaan. ***** Lupakan juga, jika 11 bulan lalu pernah bermusuhan. Karena sebenarnya hati kecil menolak untuk tidak bersahabat. Dia selalu cinta keharmonisan dengan orang-tua, anak-anak, famili dan handai taulan. Ini lah kesempatanmu untuk meminta maaf kepada siapa saja yang pernah engkau zalimi. Sekarang, jangan tunggu lagi, segera send sms (selamat menyambut shaum, saya minta saudara memaafkan saya). Semoga hidup ini makin indah dan harmonis: penuh cinta, kaya cita, penuh tawa, kaya cita-cita. ***** Jangan sia-siakan... Marhaban ya Ramadhan...Marhaban Syahra Shiyam! Mari kita sambut tamu agung kita. Kita hiasi kehadirannya dengan ragam amal saleh dan warna ketakwaan. Jangan biarkan dia pergi, kecuali Allah telah ridha dan mengampuni dosa-dosa yang ada. Karena kata Baginda Nabi, "Celakah seseorang yang didatangi Ramadhan, namun sampai Ramadhan pergi dia belum diampuni,"
|