http://m.inspirasihati.com

http://www.magnet-id.com/

KOMPILASI TULISAN PENUH HIKMAH

Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Alhamdulillah, segala Puji hanya bagi Allah SWT, yang senantiasa memberikan berjuta kenikmatan kepada semua hamba-Nya. Salam dan Shalawat semoga senantiasa tercurah suri tauladan umat, Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabat serta pengikutnya hingga akhir zaman.

Saatnya buat Sahabat yang suka berda'wah melalui tulisan? Tuangkan kekuatan inspirasi Sahabat melalui tulisan penuh makna dan hikmah nantikan karya da'wah sahabat dipublish di www.InspirasiHati.com
email Naskah dikirim ke
awanalbana@yahoo.com

Semoga Menjadi Amal Ibadah Sahabat, amin
Jazakumulloh Khairan Katsiran
Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

INDEX HIKMAH UPDATE

NSP_PREV NSP_NEXT
Kekuatan Rayap
HIKMAH TAHUN BARU ISLAM
AYAH, MAAFKANLAH AKU...
RAHASIA TUKANG BECAK YANG HAJI TAHUN INI
MENUNTUN TUNANETRA
Kisah Qurban Bu Sumi
MENGENANG LELAKI TUA, AYAHKU
NASI, GARAM DAN MINYAK JELANTAH
Wong Fei Hung, Ulama Jagoan dari Guandong
JERUK BUSUK...RASA MANIS
YA ALLAH, KAPAN AKU MENGANGKAT KOPERKU SENDIRI ?
IBU PERKASA PENCARI NAFKAH
'Ayah, bolehkah berpacaran?'
Pelajaran Syukur dari Dua Orang Pengamen
MARHABAN YA RAMADAN!
ZIKIR ITU PENAWAR HATI
BELAJAR MENGHARGAI ORANG LAIN
MAMPIR NGOMBE
LAPAR HATI
JAM SOSIAL SPIRITUAL
ANTI VIRUS KEHIDUPAN
Pengemis aja BANGUN PAGI
TEH INSPIRATIF
5 PINTU MENUJU KEBAHAGIAAN
KESABARAN SEORANG GURU
YANG TERMAHAL DALAM DO'A
KALO GEDE MO JADI APA, NAK?
SEDEKAH, MAMPU TAK MAMPU...
GADIS CILIK DI LAMPU MERAH
SI JUJUR DAN SI BERANI
BUNYI YANG BERARTI
MENGAPA BERTERIAK?
KEKUATAN PUJIAN
YA ALLAH, KAPAN AKU MENGANGKAT KOPERKU SENDIRI ?
Friday, 22 October 2010 10:30    PDF Print

YA ALLAH, KAPAN AKU MENGANGKAT KOPERKU SENDIRI ?
Bobby Herwibowo
Artikel Muslimah - Tuesday, 21 November 2006

alt



Saat itu adalah bulan Muharram tahun 1424 H. Seorang pria bernama Mamat  yang bekerja di Bandara Soekarno-Hatta sedang sibuk mengangkat  koper-koper penumpang. Koper bukan sembarang koper. Semua koper yang  baru saja dibongkar dari pesawat Saudia Airlines itu memiliki kesamaan;  berbentuk besar, berwarna biru tua dan bertuliskan nama pemilik, nomer  kloter dan asal kota. Koper-koper tersebut adalah milik jemaah haji  yang baru saja selesai menunaikan ibadah haji di Tanah Suci pada tahun  itu.  

Setiap kali mengangkat satu koper, Mamat selalu membaca basmalah dan  shalawat kepada Rasulullah Saw. Sudah berpuluh koper yang ia angkat,  hingga rasa itu muncul di dadanya. Pada kali selanjutnya, tatkala  tangannya menggamit pegangan koper, ia sempat membaca doa kecil kepada  Allah Sang Penguasa alam di dalam hatinya, Ya Allah, kapan saya  mengangkat koperku sendiri seperti ini...?!’Sebenarnya yang ia maksud  adalah ia begitu berharap dapat berangkat haji ke Baitullah. Rupanya  Allah mendengar jeritan hati Mamat. Hanya selang 4 bulan saja,  Subhanallah, namanya keluar sebagai salah seorang dari 17 orang pegawai  yang mendapatkan jatah naik haji tahun itu atas biaya kantor. Mamat pun  amat bersyukur kepada Allah Ta’ala karenanya.  

Namun kebahagiaan ini tidak serta-merta membuat Mamat puas hati. Ia  tahu bahwa berita ini boleh jadi akan membuat Iis, istrinya bersedih.  Sebab hanya dia saja yang dapat berangkat naik haji, padahal mereka  berdua selalu berdoa kepada Allah Swt agar dapat berangkat naik haji  bersama-sama. Maka tatkala menyampaikan berita ini pun, Mamat amat  hati-hati dalam mengemasnya. Semoga tidak ada bahasa yang terpeleset  dan melukai hati, itulah harapan Mamat.  

” Lis.... Akang minta maaf ya sama kamu...”, Mamat mencoba membuka  percakapan dengan meminta maaf terlebih dahulu. ” Emangnya ada apa,  Kang?”, sang istri bertanya. ”Akang ingin beritahukan sesuatu ke kamu,  tapi kamu jangan marah ya... apalagi sedih...?”, sambut Mamat. Kalimat  itu membuat Iis menjadi gelisah. Ia coba tenangkan hati untuk mendengar  berita gak enak ini. Mamat pun kemudian menyambung kalimatnya dengan  nada hati-hati, ” Lis... Akang hari ini mendapat kejutan. Akang  terpilih menjadi salah satu karyawan yang akan diberangkatkan haji oleh  kantor...”.  

”Alhamdulillah. ...!!!”Iis berteriak kegirangan. Ia langsung melompat  ke arah Mamat suaminya dan memeluknya dengan erat. Dengan bersemangat  Iis berkata, ” Kirain berita sedih...! Berita bagus kayak begini kok  dibawa sedih kayak begitu Kang? Iis ikut senang ngedengernya!.”  

”Ya... emang sebenarnya ini adalah berita gembira, Cuma yang bikin  Akang takut membuat kamu sedih adalah karena Akang gak punya duit untuk  ngeberangkatin kamu, Is! Akang khan cuma pegawai kecil seperti kamu  tahu... Kalau saja, duit itu ada, tentu Akang akan ajak kamu juga untuk  berhaji ke rumah Allah!”.  

Iis lalu mengerti kegundahan yang berkecamuk dalam hati suaminya.  Sambil tersenyum, Iis berujar, ”sudah kang gak usah dipikirin, Iis rela  melepas Akang naik haji. Tapi jangan lupa doain Iis ya biar cepat  nyusul!”. Akhirnya, apa yang dikhawatirkan Mamat tentang perasaan  istrinya pun tidak berlaku.Sekali lagi Mamat bersyukur kepada Allah  Azza wa Jalla karenanya.  

Hari itu adalah jadwal Mamat untuk berangkat haji. Seperti kebiasaan  orang kampungnya, maka kepergian Mamat diantar dengan adzan dan iqamat.  Pembacaan shalawat dustur yang dikumandangkan oleh seorang ustadz pun membuat semua orang haru meneteskan air mata. Saat itulah, Mamat berpamitan dengan  menyalami serta merangkul orang-orang yang ia kenal seraya meminta  restu. Semua anggota keluarga, kerabat, tetangga, sanak famili  menghadiri acara itu. Semuanya sudah bersalaman dan berangkulan dengan  Mamat. Hingga saat Mamat hendak naik ke atas kendaraan, saat itulah  tiba giliran Iis mencium punggung telapak tangan suaminya dan suasana  haru pun tercipta. Air mata suami-istri itu pun jatuh membasahi bumi.  Saat mereka berdua berpelukan, Iis berucap, ”Akang Mamat...., jangan  lupa untuk doain Iis ya di Baitullah... panggil-panggil nama Iis di  sana. Insya Allah, Iis dan anak-anak ikhlas ngelepas Akang. Semoga kita  semua,dengan doa kang Mamat, bisa nyusul berangkat haji bareng-bareng...!”  

Tak kuasa Mamat menahan tangis. Pelukan itu makin ia pererat. Ia hanya  mampu mengucapkan kata ’Amien’ Dalam hati, Mamat berucap agar Allah Swt  juga berkenan mengajak istri dan anak-anaknya untuk berhaji seperti  dia. Di dalam kendaraan Mamat masih sempat berdoa kepada Allah Swt  untuk keluarga yang ia tinggalkan: ALLAHUMMA ANTAS SHAHIBU FIS SAFAR,  WAL KHALIFATU FILAHLI. HR. Muslim Ya Allah, Engkau adalah pendampingku  dalam perjalanan. Engkau juga yang menggantikan aku untuk menjaga  keluarga yang ditinggalkan. .. Amien’HR. Muslim. Usai membaca doa, ia  pusatkan konsentrasinya untukkhusyuk beribadah kepada Allah Swt.  

42 hari Mamat menuntaskan semua ritual ibadah haji di kota suci Mekkah  Al Mukarramah dan Madinah Al Munawwarah. Semuanya dijalani dengan  begitu khusyuk dan nikmat. Sesampainya di tanah air pun, ia langsung  mendapatkan sebuah titel baru dari masyarakat. Kini ia dikenal dengan  panggilan Haji Mamat di kampungnya.  

Lepas 6 bulan setelah kepulangannya dari tanah suci. Iis istrinya yang  dulu sempat berucap ikhlas melepas kepergian suaminya ke tanah suci,  pagi itu ia kelepasan berujar bahwa dirinya sebenarnya begitu ingin  juga berangkat ke tanah suci untuk berhaji. Kalimat itu dituturkan  dengan nada sedih yang mengguncang hati Mamat. Kegundahan itu memang  pernah diduga sebelumnya oleh Mamat. Namun baru kali ini kegundahan itu  membuncah, dan tercetus lewat penuturan akan kerinduan untuk datang ke  rumah Allah Swt dalam ritual haji. Muslim atau muslimah mana yang tidak  mau untuk berhaji? Maka demi menghibur hati Iis, Mamat pun berujar  kepadanya, ” Lis.... kamu memang berhak untuk berangkat haji seperti  orang lain, tapi Akang belum cukup punya uang. Sekarang kita hanya  mampu untuk berdoa kepada Allah Swt.... Dia Maha Kuasa.... Jangankan  minta haji.... minta yang lebih dari itu Dia pun amat kuasa. Nanti  malam kita bangun ya untuk shalat tahajud...! kata ustadz, doa pada  sepertiga malam terakhir amat dikabul. Nanti kita doa sama-sama untuk  minta naik haji. Insya Allah akan dikabulkan.. .. percaya deh!”.  Demikian ajakan Mamatkepada istrinya untuk melakukan shalat tahajud dan  berdoa bersama nanti malam. Dan jakan itu, disambut dengan anggukan  kepala oleh Iis tanda setuju. Rupanya Mamat pulang dari kerja tidak  seperti biasa.  

Hari itu ia tiba di rumah lewat dari pukul 20.00 WIB. Rupanya ada  pekerjaan ekstra yang ia lakukan. Biasanya Mamat sudah tiba di rumah  pukul 5 sore. Mungkin, ada pesawat lain yang tiba di luar jadwal,  sehingga beberapa kuli panggul seperti Mamat disiagakan untuk bongkar  muatan. Mamat pulang dengan badan yang letih. Usai menjalani shalat  Isya, ia langsung rebahan di atas kasur dan langsung tertidur. Rasa  letih membuatnya lupa untuk makan malam terlebih dahulu, atau menyapa  keluarganya yang masih menunggu kedatangannya. Iis dapat memaklumi hal  itu. Tidak beberapa lama kemudian, Iis pun menyusul tidur di atas  ranjang bersama suaminya.  

Seperti apa yang telah mereka janjikan, Iis terjaga dan bangkit dari  tidur pada pukul 3 pagi. Kemudian ia tepuk-tepuk kaki suaminya. Karena  terlalu letih, Mamat tak sanggup untuk bangkit dan hanya berujar,  ”Aah...ah...!” tanda bahwa ia tak sanggup membuka mata. Iis langsung  bangkit menuju kamar mandi. Usai berwudhu, ia kembali lagi ke kamar  untuk bertahajud. Sajadah telah dibentangkan dan mukena pun telah ia  kenakan. Sebelum melakukan shalat, untuk kedua kalinya Iis menepuk kaki  Mamat agar ia bangun dan melakukan shalat tahajud bersama-sama. Sekali  lagi, Mamat hanya mengeluarkan kata, ”Ahh...ahh... !”. Ia terlalu lelah  untuk bangkit dan menyusul istrinya untuk bertahajud. Iis pun  memaklumi. Raut wajah Mamat yang letih sudah mengabarkan bahwa ia  terlalu lelah bekerja hari itu. Iis pun melapalkan takbiratul ihram  tanda ia memulai shalat tahajud. Begitu khusyuk shalat yang Iis  dirikan, dan di atas pembaringan Mamat pun menyaksikan sosok istrinya  yang bermukena sedang menjalankan shalat. Namun ia dalam kondisi antara  tidur dan terjaga. Kata orang, ini adalah tidur ayam. Tidur tak mau,  bangun tak kuasa.  

Setiap gerakan shalat yang Iis lakukan selalu ia iringi dengan tetesan air mata.  Sungguh..., seolah Allah Swt hadir menyambut kedatangan Iis dalam  keheningan malam itu. Hingga kedekatan dengan Sang Maha Pencipta pun  dapat dirasakan  oleh Iis yang menjalankan shalat tahajud. Tak terasa waktu bergulir  dengan cepat. Sudah satu jam lebih Iis melakukan shalat dan dzikir  kepada Allah Swt. Waktu telah menunjukkan pukul 4 lebih. Dan ia  berkeinginan untuk bermunajat kepada Allah Swt dalam lantunan dan  rangkaian doa yang ia bacakan.  

”Allahumma, ya Allah... Izinkan hambaMu ini untuk dapat berhaji ke  rumah-Mu. Mudahkan jalan hamba.... Lapangkanlah rezeki kami. Engkau  Yang Maha Kuasa atas segalanya... . Berikan perkenanmu agar aku sanggup  datang ke rumah-Mu untuk beribadah dan memakmurkannya. .. Dengarkan  doaku dan Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu...!’”. Dalam kesyahduan  doa yang dibaca oleh Iis kepada Tuhannya, rupanya Mamat pun sempat  mengamini di dalam hati tanpa sepatah kata pun terucap. Sungguh, malam  itu telah terbangun sebuah jalinan suci antara seorang hamba dengan  Allah Swt dalam rangkaian doa yang penuh hikmat dan cita.  

Adzan Shubuh mulai terdengar di beberapa masjid dan mushalla. Untuk  terakhir kali, Iis membangunkan Mamat suaminya sambil berujar, ”Pak  Haji... ayo bangun! Malu sama tetangga. Masa sudah haji enggak shalat  Shubuh berjamaah? Ayo bangun, kang....!”. Mamat pun bangkit. Berat  sekali rasanya ia mengangkat badan. Setelah berwudhu, ia pun mengenakan  pakaian yang bersih lalu berangkat menuju mushalla untuk melaksanakan  shalat Shubuh. Mamat mengucapkan salam saat masuk kembali ke rumah. Iis  dan anak-anak pun sudah bangun semua. Inilah rumah yang berkah. Semua  sudah terjaga dan bangkit untuk menyongsong hari yang indah. Mamat  kemudian meminta Iis membuatkan secangkir kopi untuknya. Kemudian  dengan tasbih di tangan, ia baru saja hendak menempelkan pantatnya ke  kursi sofa di ruangan depan.  

Namun tiba-tiba hasratnya untuk duduk, dihentikan oleh dering telfon  yang berbunyi keras di pagi hari. Mamat pun mengangkat gagang telfon.  

“Assalamu’alaikum. .... ini dari mana dan mau bicara dengan siapa?”,  Mamat membuka pembicaraan. “Mat... ini teh Sulis, Iis ada nggak?”,  demikian suara di seberang menjawab. Mamat pun tahu bahwa orang yang  menelfon ini rupanya adalah kakak iparnya sendiri. Tanpa berpikir  panjang, Mamat pun memanggil Iis yang saat itu sedang hendak membuatkan  kopi untuknya. Mamat kembali duduk di atas kursi sofa. Sementara Iis  duduk di lantai untuk menerima telfon. Baru saja Iis mengucapkan salam  kepada teh Sulis, namun setelah itu tidak ada satu patah kata pun yang  meluncur dari mulut Iis. Yang ada adalah deraian air mata dan kata,  “Iya Teh!”, berulang- ulang diucapkan.  

Pembicaraan telfon di pagi hari itu sudah lebih dari 10 menit berlangsung. Melihat  istrinya terus menangis, Mamat menduga bahwa ada berita buruk yang  terjadi terhadap keluarga hingga pagi-pagi begini sudah menelfon dan  membuat istrinya menangis. Mamat mengira bahwa ada salah seorang  familinya berpulang kepangkuan Ilahi. Gagang telfon itu kemudian  diletakkan Iis. Ia masih sesenggukan menahan tangis. Iis mencoba  mengangkat wajah dan menghadap ke arah suaminya. Saat itu Mamat mencoba menyelak dengan pertanyaan, ”Siapa yang  meninggal, Is..?”. Masih sesenggukan Iis menjawab, ”Tak ada yang  meninggal, Kang!”.  

” Lalu kenapa kamu menangis kayak begitu, emangnya berita sedih apa  yang diceritain teh Sulis?”, Mamat masih mengejar dengan pertanyaan  yang lebih menukik. Saat itulah Iis menceritakan hal sebenarnya,  “Kang...., barusan teh Sulis bilang bahwa ia berniat berangkat haji  tahun ini. Kebetulan kang Andi suaminya lagi banyak kerjaan. Kang Andi  gak bisa nemenin.... Teh Sulis tadi nanya saya, kamu khan belum  berhaji, mau gak saya ajak? Teh Sulis mau bayarin biaya haji saya....  tapi saya disuruh minta izin dulu ke Akang. Iis gak nyangka, Kang....  begitu cepat Allah menjawab doa yang baru saja Iis sampaikan dalam  tahajud. Sekarang, pilihan mah ada di Akang. Jika Akang izinkan, saya  siap. Kalau Akang enggak izinin saya juga ikhlas...!” Iis berhenti  sejenak mengatur nafasnya yang masih sesenggukan. Air mata itu masih  menetes tanda haru dan syukur atas doa yang Allah Swt kabulkan.  Sementara Mamat masih terdiam, terperangah dan takjub atas kemurahan Tuhan.  

Mamat langsung merangkul istrinya ke dalam dekapan. Mamat berujar,  ”Kamu boleh berangkat haji untuk beribadah dan nemenin teh Sulis. Akang  ikhlas mngizinkan kamu dan merawat anak-anak di rumah. Silahkan kamu  berhaji untuk melengkapi agama kamu, Is!” Keduanya masih berpelukan  erat tanda haru dan syukur atas nikmat Allah Swt yang tiada ternilai.  Dalam keharuan tersebut ternyata masih tersisa sebuah penyesalan dalam  dada Mamat yang kemudian terbersit di hatinya, ”Coba, saya ikut bangun  tahajud dan berdoa kepada Allah untuk minta haji. Mungkin bisa  berangkat bareng-bareng juga kali ya....?!”  

Itulah kisah sepasang suami-istri hamba Allah Swt yang dimudahkan untuk  berhaji ke Baitullah. Semoga Anda dan saya dapat menerima anugerah  serupa. Amien!  

”Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,  supaya kamu bersyukur.”(QS. 2:185) 

 

Add comment


Security code
Refresh

TIDAK BISA MENDENGARKAN RADIO LIVE STREAMING KLIK >> [ wmpfirefoxplugin]

StudyZone Islamic BroadcastingMagnet Hosting95.5 RASfm JakartaAM792 Radio Suara As Syafi'iyah Jakarta89.5 SPAfm SukabumiQommunity Radio GermanyRadio-QU Cirebon