Kejujuran Itu Luar Biasa

kisah dari sahabat Rasulullah yang memilih hidupnya di jalan kejujuran dialah Ka’ab bin Malik ra. Beliau adalah seorang sahabat yang mempunyai ketaatannya kepada Allah dan Rasulnya dengan cara mengikuti perang demi perang kecuali perang badar karena pada saat itu dia tidak mengetahui adanya perang tersebut, setelah ia tahu ada perang badarada rasa penyesalan dalam dirinya karena tidak mengikuti perang tersebut dan dari situlah ia berjanji bahwa dalam setiap peperangan beliau harus mengikuti perang tersebut sebagai wujud rasa cinta kepada Allah dan Rasulnya.

Maka ketika Rasulullah di Madinah mengumumkan secara langsung bahwa sebentar lagi akan di adakan perang tabuk melawan ramawi, ketika itu musim panas dan beberapa orang merasa malas untuk mengikuti perang tabuk tersebut dan dikala itu pula di Madinah sedang musim kurma karena kurma adalah bahan pokok makanan mereka, sehingga musim itulah yang sangat di tunggu-tunggu oleh warga Madinah. Perang tambuk ini memberikan kontribusi kepada umat Islam, maka Rasulullah mengerahkan puluhan ribu kaum umat muslimin untuk mengikuti perang tambuk tersebut. Ka’ab bin Malik pun berpikir bahwa jika satu orang saja tidak mengikuti perang tersebut maka Rasulullah pun tidak akan mengetahuinya, maka Ka’ab bin Malik pun menunda-nunda untuk mengikuti perang sabuk tersebut dan ia berpikir bahwa ia akan mengikuti perang tersebut di tengah-tengah peperangan karena dia sudah mempunyai kuda-kuda yang kuat. Ka’ab bin Malik pun terus menerus menunda-nunda mengikuti perang tersebut dengan berleha-leha dengan kedatangan kurma-kurma.

Sampailah waktunya perang tabuk dilaksanakan kaum muslimin dan Rasulullah kembali lagi ke Madinah. Tetap saja Ka’ab bin Malik tidak mengikuti perang sabuk tersebut, lalu Ka’ab bin Malik mulai mencari-cari teman siapa yang tidak mengikuti peperangan tersebut, ia mendapatkan bahwa yang tidak mengikuti perang tersebut hanyalah orang-orang munafik, atau orang-orang yang udzur, cacat, tua, sakit sehingga Ka’ab bin Malik merasa bersedih dan menyesal lalu orang-orang mengatakan: “Sudahlah Ka’ab bin Malik ketika Rasulullah kembali ke Madinah tinggal engkau katakan saja dengan mencari-cari alasan lalu setelah itu berbohong saja karena Rasulullah pasti tidak tahu”. namun Ka’ab bin Malik hatinya terus merasa gelisah dengan kebohongan-kebohongan itu. Setelah perang tersebut selesai Rasulullah beserta kaum muslimin lainnya menuju ke Madinah, kemudian Rasulullah pun sudah berada di masjid satu persatu orang ditanya apa alasannya mereka tidak mengikuti perang tabuk, hingga tibanya bagian Ka’ab bin Malik mendatangi Rasulullah dengan kepala yang menunduk dan masih di selimuti dengan rasa bersalah, hampir ia tidak berani mengatakan sepatah kata pun kepada Rasul.

Rasulullah berkata: “Wahai Ka’ab kenapa engkau tidak mengikuti perang tabuk padahal semua umat muslimin tahu betul bahwa engkau adalah makhluk yang senantiasa mencintai Allah dan Rasulnya?”. lalu Ka’ab dengan rasa bersalahnya menyatakan kepada Rasulullah hal yang sebenarnya dengan hati yang berdebar-debar “Wahai Rasul apabila dihadapan ku bukan engkau pasti aku telah berbohong, hanya saja wahai Rasul aku memahami bahwa sesungguhnya ketika aku berbohong Allah pasti akan menurunkan firmannya kepadamu wahai Rasul, bahwa aku jujur pada saat ini aku tidak mengikuti perang tabuk karena aku begitu terlena dengan kurma-kurma yang ada di Madinah”. Rasulullah berkata: “Tunggulah firman dari Allah sesuai dengan apa yang telah kamu lakukan”. Maka Ka’ab bin Malik pun di boikot (di diamkan) selama 50 hari oleh Rasulullah dan seluruh umat Islam dan itu membuat hatinya sangat sedih.

Luar biasa penderitaan yang di alami Ka’ab bin Malik tidak pernah mendapat satu sapaan dari kaum musliminpun sampai-sampai ada Raja Ghassan mengirimkan utusan kepada Ka’ab bin Malik dengan sebuah surat yang berisikan “Wahai ka’ab bin Malik sesungguhnya Islam tidak membutuhkanmu lagi, Allah dan Rasulullah pun tidak membutuhkanmu kalau begitu, ikut saja dengan kami agar senantiasa menerimamu apa adanya”. Lalu apa kata Ka’ab bin Malik ia langsung merobek surat tersebut dan mengatakan: “Inilah ujian dari Allah aku harus senantiasa ta’at kepada Allah dan Rasulnya inilah kesalahanku dan aku telah berjanji agar senantiasa jujur kepada Allah dan Rasulnya tidak masalah kalau aku di diamkan oleh Allah dan Rasulnya selama 50 hari”. Ia terus sholat, ibadah, sembahyang, lalu di hari ke 50 turunlah firman Allah surah at-taubah ayat 117-119 bahwa Allah telah mengampuni dosa orang-orang yang telah berprilaku seperti itu.

Maka seluruh umat muslim pada akhirnya berlomba-lomba mendatangi Ka’ab bin Malik dan mengatakan “Selamat wahai ka’ab bahwa Allah telah mengampunimu” dan Ka’ab bin Malik pun berlari menuju kepada Rasulullah dan memeluk Rasulullah lalu ia mengatakan “Adakah ini firman dari Allah apa dari engkau ya Rasulullah?” Rasulullah berkata: “Ini dari Allah” Dari situ Ka’ab bin Malik pun pada hari itu berjanji kepada Rasul “aku serahkan seluruh harta kekayaanku untuk agam islam, aku serahkan seluruh yang ada pada diriku untuk agam Rasul dan Allah serta aku berjanji sejak hari ini aku tidak akan berdusta. kita bisa mendapatkan pelajaran dari kisah Ka’ab bin Malik bahwa kejujuran itu luar biasa ketika kebohongan yang kita kerjakan maka kegelisahanlah yang ada dalam diri kita, meskipun orang lain tidak tahu atas kebohongan yang telah kita perbuat tetapi Allah maha mengtahuinya. Biasakanlah hidup jujur, berbicara apa adanya, tidak berdusta sebagaimana Rasulullah telah mengajarkan kepada umatnya, dan ciri orang munafik adalah apabila ia berbicara ia berdusta. Maka lindungilah kami ya Allah dengan perkataan yang baik jika tidak bisa lebih baik diam saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *